[EDITORIAL] Pengakuan yang Memabukkan

0

Institut Teknologi Bandung (ITB) kini memasuki usia ke-58, ditandai dengan diadakannya Dies Natalis ke-57 pada Maret ini. Sebagai salah satu perguruan tinggi yang berdiri sejak Republik ini berusia remaja, catatan sejarah dan kemajuan bangsa tak luput dari keterlibatan civitas akademikanya, termasuk dari elemen mahasiswa. Kehadiran mahasiswa ITB dalam berbagai kesempatan di dalam maupun luar negeri, baik itu dalam ranah keilmuan maupun pergerakan kemahasiswaan, turut memberi kisah bagi keberjalanan institusi ini. Hal ini kemudian berdampak pada pengakuan atas kontribusi yang telah diberikan, mulai dari status PTN dan segala embel-embelnya, berbagai bantuan berupa hibah mulai dari alat laboratorium sampai bangunan fisik, hingga status lainnya yang ditunjukkan salah satunya dengan adanya pemeringkatan oleh berbagai lembaga. Di satu sisi pengakuan tersebut dapat berdampak positif, namun seringkali memberi efek yang ‘memabukkan’ bagi penerimanya. Salah satu bentuk pemeringkatan tersebut ditunjukkan oleh adanya rilis dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemristekdikti) mengenai klasifikasi dan pemeringkatan perguruan tinggi tahun 2015 yang menempatkan ITB sebagai peringkat pertama.

Klasifikasi yang didasarkan pada data per Desember 2014 tersebut memiliki empat parameter pokok, yakni kualitas tenaga kependidikan, kualitas manajemen, kualitas penelitian, dan kualitas kegiatan kemahasiswaan. Dari empat parameter tersebut dinyatakan bahwa ITB unggul di tiga parameter pertama, sedangkan parameter terakhir hanya memiliki poin 1.9 dari skala 4.0. Parameter tersebut saat ini dinilai hanya berdasarkan prestasi yang diraih oleh perguruan tinggi pada kompetisi resmi dari pemerintah di tingkat nasional (PKM, ON, Mapres, dll.), yang diakui oleh salah satu dekan di ITB dalam sebuah kesempatan tidak menggambarkan kegiatan kemahasiswaan secara utuh. Namun hal ini mungkin yang menjadi salah satu faktor pendorong bagi Lembaga Kemahasiswaan untuk menambah partisipasi mahasiswa ITB di perlombaan tersebut dengan berbagai cara. Hal tersebut bukanlah hal yang buruk, namun ada sebuah kegusaran jika kegiatan kemahasiswaan tidak diperhatikan dengan seimbang (sebagaimana pendapat yang selalu kita terima selama ini terkait keseimbangan akademik dan kegiatan lainnya). Entah karena fokus tersebut ataupun faktor lainnya menyebabkan petinggi institusi ini terlena oleh prestasi dan penghargaan yang disematkan hingga kurang mengindahkan kegiatan kemahasiswaan yang tidak dinilai di pemeringkatan tersebut. Tak elok rasanya bila institusi ini hanya bisa unjuk gigi keluar dengan data peringkat yang belum tentu terjadi secara nyata di dalam kampus.

Pendekatan yang dilakukan pada kegiatan kemahasiswaan saat ini belum bersifat mendorong maupun membina namun cenderung untuk mengontrol mayoritas keberjalanannya. Hal tersebut terlihat dari berbagai peraturan yang dikeluarkan, adanya upaya untuk mengatur KM ITB dengan kebijakan keuangan terpusat (yang kemudian diundur waktu implementasinya karena kurangnya sosialisasi), hingga mencampuri kegiatan lembaga tertentu seperti dicontohkan pada pembubaran sebuah diskusi beberapa waktu silam dan kegiatan-kegiatan yang terdahulu. Di mata mahasiswa memang terlihat sebagai suatu masalah, namun belum tentu di mata para petinggi kampus. Mereka pun sebenarnya mengikuti aturan yang dibuat di masa sebelumnya, seperti yang tercantum pada Peraturan Rektor nomor 267/PER/I1.A/KM/2015 tentang Kemahasiswaan ITB, pasal 15 (2), yang intinya menyatakan bahwa organisasi kemahasiswaan hanya sebagai wadah pengembangan diri mahasiswa. Padahal, kegiatan yang dilakukan selama ini tak terbatas pada pengembangan anggota, namun juga dapat menyentuh masyarakat umum dari berbagai sisi. Mulai dari usaha penyebaran keilmuannya, turun langsung memperbaiki lingkungan, bahkan hingga terlibat menyampaikan aspirasi publik pada pemerintah dan pihak terkait. Andai saja hal tersebut mudah untuk dinilai, mungkin pembuat kebijakan di kampus ini akan menilai lebih kegiatan yang telah dilakukan oleh mahasiswa dan memberi dorongan untuk berkembang dalam kegiatan yang sebenarnya dapat menguntungkan citra institusi itu sendiri.

Selama petinggi kampus ini masih melihat sebelah mata kegiatan kemahasiswaan, yang bisa dilakukan oleh para pelakunya tidak cukup hanya dengan solusi di mulut saja, namun harus dijalankan dan dibuktikan keberjalanannya. Tidak harus berupa program kerja yang besar nan kaku, namun bisa bertahap, sesuai dengan keilmuannya, dan langsung berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat (tak hanya kalangan yang seminat dengan keilmuannya saja), untuk membuka indera para petinggi akan kegiatan akademik dan kemahasiswaan yang sesungguhnya. Semoga momentum awal KM ITB pada tahun 2016 ini yang dimulai dengan Student Summit dan pembatalan kebijakan keuangan terpusat di kabinet memberikan pelajaran yang cukup berarti bagi kita semua, bahwa keberjalanan KM ITB tak hanya terbatas pada tawar-menawar program kerja pada lembaga lain, namun harus diniatkan betul oleh pelakunya untuk kepentingan bersama. Jangan sampai mahasiswa ikut dimabukkan oleh wacana dan rumitnya sistem yang ada dihadapannya.

Selamat merayakan euforia tahunan dalam institusi ini, semoga ITB masih dibutuhkan keberadaannya untuk menjawab kebutuhan rakyat, setidaknya di kalangan masyarakat sekitar, di masa mendatang. Bagi seluruh civitas akademika ITB, selamat berinovasi ditengah dinamisnya kehidupan.

Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa ITB 2016, Muhammad Rezky.

note: ‘Editorial’ merupakan tajuk yang berisi pandangan yang mewakili tim redaksi Pers Mahasiswa ITB, bukan Pers Mahasiswa ITB secara keseluruhan.

Share.

Leave A Reply