Andai DiCaprio Pidato di Student Summit

3

Mega Liani Putri
Anggota Biasa Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB

Student Summit adalah langkah maju yang diambil oleh KM ITB tahun ini untuk menentukan arah gerak kemahasiswaan. Kata “sinergis” diharapkan muncul untuk menggambarkan KM ITB mulai tahun 2016. Namun, di antara derap langkah yang ingin maju, tahukah massa bahwa satu langkah terpaksa mundur?

Langkah itu bernama pengelolaan lingkungan.


 

logo-KM-ITB

Isu lingkungan memang bukanlah isu yang enak dikunyah oleh banyak kalangan. Banyak yang baru membuka matanya ketika telah terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan. Sedari dulu, orang cenderung melakukan end-of-pipe treatment: penanganan setelah timbul limbah (material sisa dari suatu aktivitas manusia).

Abad ini, isu lingkungan mulai dikemas lebih menarik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar berpartisipasi aktif, bukan hanya reaktif, untuk menjaga kelangsungan hidup manusia di bumi ini. Salah satunya, industri film telah mengambil bagian dalam upaya mengangkat isu lingkungan ini, menembus batas-batas negara dan berbagai lapisan masyarakat.

Baru-baru ini, isu lingkungan menjadi bagian yang paling diperbincangkan pada Academy Awards 2016 karena diangkat oleh seorang selebriti dunia, Leonardo DiCaprio, yang berhasil meraih Best Actor-Leading Role. Di panggung itu, dibawakan oleh sosok dengan popularitas tinggi, seketika winning speech tersebut menyentuh hati banyak orang. Pidato tersebut secara luas disebarkan oleh para netizen di berbagai media sosial.

Berikut kutipan pidato Leonardo DiCaprio yang termotivasi oleh pengalamannya menghadapi fenomena alam akibat perubahan iklim selama shooting film The Revenant:

“And lastly I just want to say this: Making The Revenant was about man’s relationship to the natural world. A world that we collectively felt in 2015 as the hottest year in recorded history. Our production needed to move to the southern tip of this planet just to be able to find snow.

Climate change is real, it is happening right now. It is the most urgent threat facing our entire species, and we need to work collectively together and stop procrastinating.

We need to support leaders around the world who do not speak for the big polluters, but who speak for all of humanity, for the indigenous people of the world, for the billions and billions of underprivileged people out there who would be most affected by this. For our children’s children, and for those people out there whose voices have been drowned out by the politics of greed.”

Tak Ada Dicaprio di Student Summit

Andai ada sesosok DiCaprio yang menyadarkan ratusan petinggi lembaga yang berkumpul untuk membahas arah gerak KM ITB, tentu isu lingkungan menarik perhatian banyak pihak. Namun sayangnya, isu lingkungan telah “dipinggirkan” di Student Summit. Dikalahkan oleh isu-isu lain yang lebih strategis, kata mereka.
Hal ini tidak terlepas dari hasil Musyawarah Nasional Ke-IX Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) pada Januari lalu yang telah menunjuk ITB sebagai koordinator isu energi. Keputusan tersebut tentunya mempengaruhi gerak Kabinet KM ITB, begitu pula elemen KM ITB lainnya. Bagaimana tidak? Gerak Kabinet dan elemen KM ITB lainnya akan saling kait-mengait selepas usainya Student Summit ini.

Percakapan penulis dengan Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL), Tatwadhika Rangin Siddharta (TL 2013), mengungkapkan fakta di atas sebagai salah satu faktor yang mendorong langkah mundur pengelolaan lingkungan di kampus ini. “Bagi Kabinet, lingkungan tidak lagi menjadi prioritas,” ungkapnya. Tahun ini, Kabinet yang disiapkan oleh Ketua Kabinet KM ITB terpilih tidak lagi mempunyai kementerian khusus yang mengurus pengelolaan lingkungan.

Usut punya usut, Student Summit yang bertujuan untuk menyelaraskan gerakan mahasiswa ITB ternyata dibatasi oleh program kerja kabinet yang telah disusun rapi untuk mewujudkan visi misi Ketua Kabinet KM ITB. Tidak ada poin lingkungan dalam visi misinya tahun ini. Maka, tidak ada lagi forum khusus membahas lingkungan pada Student Summit tahun ini.

Tanpa DiCaprio, Masih Ada yang Bergerak

Kecenderungan para petinggi KM ITB untuk tidak memprioritaskan masalah lingkungan ternyata tidak menyurutkan langkah lembaga yang sudah berkomitmen untuk mengawal pengelolaan lingkungan di kampus ITB, yaitu HMTL, Keluarga Mahasiswa Infrastruktur Lingkungan (KMIL), dan U-Green. Ketiga lembaga ini memperjuangkan program terkait manajemen lingkungan di kampus melalui forum sektoral Student Summit, yaitu Forum Advokasi Kebijakan Kampus dan Forum Inovasi.
Melanjutkan program yang telah diinisiasi tahun lalu, yaitu ITB Waste Management, HMTL mengangkat isu ini di Forum Advokasi Kebijakan Kampus. Ketua HMTL, Tatwadhika, menyambut baik lolosnya ITB Waste Management sebagai isu taktis yang akan diwadahi oleh Kementerian Advokasi Kebijakan Kampus nantinya.

“Untuk ITB WM sendiri, belum tahun ini menjadi isu strategis tapi lebih ke arah isu taktis dulu yang sekarang. Karena memang yang ingin HMTL lakukan tahun ini bersama KMIL itu adalah riset. Riset data-data sampah hingga menganalisis mau kayak gimana pengelolaan sampah di ITB. Kita bicara bukan sistemnya atau hal-hal teknis, tapi lebih ke manajemen. Itu yang pengen kita cari tahun ini,” jelas Ketua HMTL ITB.

HMTL akan bergerak di Kampus ITB Ganeca dengan menitikberatkan pada limbah yang ditimbulkan oleh aktivitas perkuliahan sedangkan KMIL akan bergerak di Kampus ITB Jatinangor dengan menaruh perhatian pada masalah sampah yang ditimbulkan di asrama. Selain itu, INDDES juga ingin turut berpartisipasi dalam ITB Waste Management dalam hal inovasi visualisasi tempat sampah.

Lewat gerakan yang berbeda, U-Green sebagai unit kegiatan mahasiswa yang memang bergerak di pendidikan eco-lifestyle, kembali ingin mengaktifkan gerakan zero-waste event yang terakhir kali diberlakukan pada OSKM 2013.

Begitulah yang diungkapkan oleh Ketua U-Green 2016 yang baru saja terpilih, M. Adil Setiyanto Husodo (TL 2014). Menurut Adil, gerakan ini sempat terhenti karena tidak ada SOP yang jelas bagi penyelenggara acara di lingkup kampus. Oleh karena itu, bekerja sama dengan Kementerian Pengabdian Masyarakat, U-Green ingin menyusun SOP Pengelolaan Sampah event kampus sehingga bisa mewujudkan minimalisasi limbah mendekati zero waste.

We need to work collectively together and stop procrastinating.”

Kita harus bekerja sama dan berhenti menunda-nunda, begitulah pesan Leonardo Dicaprio. Apakah KM ITB harus menunggu Student Summit tahun depan untuk mewujudkan manajemen lingkungan yang lebih baik di kampus yang mendapatkan predikat perguruan tinggi nomor 1 di Indonesia oleh DIKTI?Apakah KM ITB baru akan memperhatikan lingkungannya ketika kelak dipilih menjadi koordinator isu lingkungan oleh BEM-SI?

Beruntung bahwa masih ada lembaga yang tidak patah arang untuk memperjuangkan pengelolaan lingkungan walaupun tidak ada lembaga terpusat yang akan melakukan penjagaan khusus terhadap hal ini. Walau tidak ada Dicaprio, they stand up for themselves.

Kata para idealis, di kampus inilah para pemimpin bangsa ditempa karakter dan pemikirannya. Jika isu lingkungan masih dinomor sekiankan oleh generasi di tahun 2016, Indonesia seperti apakah yang Anda bisa harapkan lima, sepuluh, atau dua puluh tahun mendatang?

Lingkungan Kampus Ini Tidak Baik-Baik Saja

Sampah ITB
The most urgent threat facing out entire species.

Begitulah Leonardo DiCaprio mengungkapkan kegawatan kondisi dunia akibat perubahan iklim. Lalu, kalimat yang bagaimanakah yang seharusnya mengungkapkan bahwa kondisi ITB pun – sebagai bagian dari dunia – tidak baik-baik saja? Bagaimana kalau kita ungkap saja fakta-fakta berikut:
1. Sampah di ITB belum terkelola dengan baik, dimulai dari pemilahan sampah dari sumbernya. Walaupun telah dipilah, pada akhirnya akan dicampur saat dilakukan pengangkutan ke TPS.
Penggunaan listrik berlebihan terutama untuk pencahayaan termasuk di gedung yang dirancang sebagai green building yang cukup dengan cahaya matahari pada siang hari.

2. Banyaknya air terbuang akibat kerusakan keran dan kelalaian pengguna fasilitas.
Tumpukan sampah di sudut-sudut kampus sebagai sisa dari acara besar oleh berbagai lembaga, termasuk himpunan, unit, maupun kepanitiaan terpusat.

3. Ketika mengadakan acara dan membuka stand makanan, tidak ada kebijakan yang melarang penggunaan kemasan yang berlebihan dan tidak ramah lingkungan seperti styrofoam.
Masih banyaknya penggunaan kendaraan bermotor pribadi oleh mahasiswa ITB.

4. Rusaknya fasilitas water tap sehingga mahasiswa tidak bisa melakukan pengisian ulang botol air minum. Mahasiswa pada akhirnya terpaksa membeli air kemasan walaupun telah membawa botol yang bisa diisi ulang.

Banyak fakta lainnya yang menunjukkan bahwa lingkungan di kampus ini tidak baik-baik saja. Kita, masih termasuk orang-orang yang menyebabkan fenomena yang disebut sebagai the most urgent threat facing our entire species.

Walau tidak ada tulisan hitam di atas putih terkait gerakan mahasiswa ITB untuk memperhatikan pengelolaan lingkungan, semoga tiap massa kampus telah berada di fase sadar bahwa pengelolaan lingkungan tidak bisa tidak diupayakan meski hanya di skala kampus. Dari kampus ini malah seharusnya, muncul generasi yang telah terbiasa memperhatikan aspek lingkungan tiap kali berusaha mengembangkan tanah air ini untuk menjadi bangsa yang besar dan mapan.
Pengelolaan lingkungan tidak terlepas dari tiga aspek: institusi, regulasi, dan teknis. Jelas, KM ITB kini kehilangan institusi terpusat yang mengurusi mengenai pengelolaan lingkungan. Regulasi? Inilah yang akan dikaji oleh HMTL, KMIL, dan pihak lain setahun ke depan terkait ITB Waste Management. Teknis? Apakah kita harus menunggu institusi dan regulasi?

Acara terdekat KM ITB adalah Wisuda April. Aktivitas perayaan wisuda dari waktu ke waktu terus menjadi sebab munculnya tumpukan-tumpukan sampah baru di kampus ini. Banyak eco-lifetyle yang sebenarnya bisa diterapkan termasuk di acara-acara seperti ini. Secara sederhana, massa kampus tentu tidak awam dengan konsep 3R: reduce, reuse, dan recycle. Mampukah upaya sederhana seperti itu diberlakukan di acara kampus yang telah berusia 57 tahun ini?

The only way forward, if we are going to improve the equality of the environment, is to get everybody involved.”
-Richard Rogers

Share.

3 Comments

  1. Rizqi Ramadhan on

    Maaf, setahu saya memang tidak tercantum secara eksplisit di visi misi. Namun isu lingkungan tetap ada di lingkup fungsi Kabinet dan menjadi perhatian dengan adanya rumpun kajian kesehatan lingkungan

    • Yeap !A remarquer sur l’observatoire des inégalités qutvcquo;effes&irement les problémes d’insertion de ne sont pas sans rapport avec un passé colonial…Une évidence qui ne donne aucune vertu à toutes formes de Droite !HA ! Quand c’est écrit noir sur blanc ch’kompran mieux Â

  2. daripada membangun opini skeptis publik, lebih baik bangun saling kepercayaan antar elemen kampus. meski bermaksud memperjelas posisinya, rasanya penulis tidak fair dalam beropini yg didatangkannya dari satu pihak.
    kalau anda fikir lagi, sebenarnya sinergi itu datang dari mana, ya? coba analogikan seperti pernikahan, yang menginginkan menikah (sinergisasi antara dua kehidupan manusia) apakah itu si lelaki saja, atau perempuannya saja? ya. kalau hanya lelakinya yang ingin sedang perempuannya tidak, bagaimana pernikahan bisa terjadi; bagaimana bisa maju?
    maka dari itu, daripada menghardik lebih baik berfikir keras peran apa yang bisa dilakukan masing-masing; dan kalau mau lewat tulisan buatlah tulisan yang membangun.

Leave A Reply