Kompilasi Puisi

0

Buat Sartre

dapat kuintip lewat lubang kunci kata-katamu
orang lain itu api
yang membakar kesunyian
dan kebebasan : dirimu menjelma cambuk
sampai berapi melibas punggung sendiri
Dia ingin kau menguap
sebagai suci yang kembali.
Bandung, 2015


Berdiri

berdiri aku di gerbang pagi
menunggu panggilan kekasih
digoda rengek knalpot dan klakson angkot
disoraki prenjak dan murai yang gagal kawin dikalahkan deru mesin

seperti sedang memanas-manasi juga
padahal aspal, damar, dan ujung jenggotku masih basah rabu itu
sebab udara melembab penuh uap air saat bibirmu mengucap, mengembuskan dingin pada diamku hingga beku di sepanjang lidah

aku berdiri sampai siang
menunggu siapa yang menyerah
kicau itu atau suaramu
menunggu siapa tamu, bentuk matamu atau adegan mautku
Bandung, 2015


 

Kerupuk

terlempar saja aku bagai kerupuk
ke dalam mulut

mengambang lalu lembek dan
absurd

terasing saja adaku dalam hidup
lahir lalu girang dan
dijemput maut

aku bosan jadi kerupuk
sekali-kali izinkan aku jadi
sambal yang ngamuk
di setiap lidah makhluk
Bandung, 2015

Penulis : Asra Wijaya (FT ’11), Lingkar Sastra ITB

Share.

Leave A Reply