Dosen Teknik Lingkungan ITB Angkat Bicara Soal Darurat Asap

0

ganecapos.comKualitas udara di beberapa daerah darurat asap di Sumatera dan Kalimantan semakin memburuk. Hal ini mendorong tim redaksi Ganeca Pos untuk menemui seorang dosen Teknik Lingkungan ITB dari Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah, Dr. Haryo Satriyo Tomo. Penting untuk diketahui publik tentang rekayasa sederhana untuk menanggulangi efek kebakaran hutan terhadap kesehatan masyarakat.

 

Kondisi Lahan Terbakar

Kebakaran hutan yang melanda beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan disebabkan oleh keberadaan lahan gambut yang sudah mengalami proses rekayasa. Proses rekayasa yang dimaksud ialah tanaman yang berada di permukaan tanah tersebut sudah bukan tanaman asli gambut. Selain itu, kebakaran juga disebabkan oleh musim kemarau dan kekeringan (dipicu oleh El Nino) sehingga kadar air yang berada di tanah telah turun drastis.

Dr. Haryo menjelaskan bahwa di dalam lahan tersebut (di bawah top soil) terjadi pirolisis lambat. Pirolisis adalah dekomposisi kimia senyawa organik melalui proses pemanasan hingga berubah menjadi fase gas. Pirolisis lambat ini sulit dideteksi karna terjadi di bawah permukaan tanah. Gas yang terbentuk ketika lepas ke udara bebas dan berinteraksi dengan uap air akan membentuk kabut. Jika tanah yang mengalami pirolisis terekspos dengan oksigen bebas maka akan terjadi kobaran api di atas permukaan tanah kemudian menyebabkan asap tebal.

Pembukaan lahan baru juga memengaruhi terjadinya kebakaran hutan. Pembukaan lahan yang dilakukan secara sistematis (oleh perusahaan industri) ataupun tidak sistematis (oleh masyarakat) dewasa ini masih menggunakan teknik membakar hutan. Teknik ini dilakukan dengan perspektif bahwa pembakaran membuat tanah menjadi gembur karena terbentuknya senyawa yang menggemburkan tanah pada proses pembakaran. Namun, pada praktiknya ini dilakukan karena lebih ekonomis dibandingkan dengan penggunaan alat berat untuk membersihkan lahan.

Penanggulangan Teknis dan Kuratif

Saat terjadi kebakaran pada suatu lahan, Dr. Haryo berpendapat bahwa seharusnya ada usaha mematikan sumber utama api dengan segera, yaitu dengan teknik pemutus api. Teknik pemutus api dilakukan dengan memanfaatkan pemutusan jalur oksigen dengan cara membuat api di sekeliling sumber api. Walaupun masih dengan teknik sederhana, sejauh ini teknik pemutus api yang dapat dilakukan sebagai tindakan preventif sebelum kabut asap terbentuk.

Dr. Haryo menyebutkan bahwa akhir-akhir ini pola angin sudah berubah, yaitu kini angin berhembus dari Pasifik sehingga membawa lebih banyak butir air. Diharapkan angin dapat menyebabkan hujan di daerah Barat Indonesia dan membawa kabut dan asap sehingga mengurangi konsentrasi di daerah darurat asap kini.

Namun, tidak cukup bila hanya menunggu hujan alami. Hujan buatan juga sangat dibutuhkan karena memang hujanlah yang bisa membuat presipitasi partikulat di udara. Dari pemerintah seharusnya segera mengirimkan helikopter yang bisa menyirami lahan-lahan terbakar. Selain itu, penyemprotan langsung titik-titik api diharapkan juga dilakukan oleh aparat dan masyarakat sekitar. Penyemprotan seharusnya bisa menurunkan temperatur tanah sehingga bisa menghambat terjadinya pirolisis. Tiap KK bisa melakukan penyemprotan secara vertikal di halaman rumah sehingga partikulat (butiran polutan padat) bisa terpresipitasi (turun ke bawah tanah) sehingga mengurangi konsentrasi partikulat di udara yang bisa terhirup.

 

Upaya Minimalisasi Efek terhadap Kesehatan Masyarakat

mask filterKabut asap menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjangkit masyarakat sekitar. Penggunaan masker bedah maupun masker yang berbahan kain tidak dapat mengatasi kabut asap karena tidak didesain untuk memfilter partikel dengan ukuran sangat kecil. Masyarakat seharusnya menggunakan mask filter yang memiliki dua lapis dengan filter diantaranya. “Kabut asap mengandung partikel mikroskopis sulfat dan nitrat yang berbentuk fasa cair sangat berbahaya membahayakan saluran pernapasan. Zat ini bersifat iritan sehingga menyebabkan radang tenggorokan dan mata pedih,” jelas Dr. Haryo.

Dr. Haryo juga merekomendasikan untuk tidak banyak beraktivitas di luar ruangan. Ventilasi udara juga harus diperhatikan sehingga udara luar tidak masuk ke dalam ruangan. Sirkulasi udara juga dapat ditingkatkan dengan penggunaan kipas angin ataupun air conditioner yang menggunakan saringan.

 

Reporter:

Vania Elliya A. (Manajemen Rekayasa Industri 2014)

Mega Liani Putri (Teknik Lingkungan 2013)

Ilustrasi:

dari berbagai sumber

Share.

Leave A Reply