Mahasiswa Ungkap Kondisi Darurat Asap di Sumatera dan Kalimantan

0

GANECAPOS.com – Sumatera dan Kalimantan kelam. Sejak tengah tahun 2015, asap menutupi langit di bagian Barat Indonesia. Asap yang berasal dari kebakaran hutan membuat jarak pandang semakin pendek dan kini membahayakan kesehatan masyarakat. Dilansir oleh Harian Kompas (30/09/15) bahwa di Kalimantan Barat, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terus meningkat. Di Pekanbaru, pemerintah telah menyediakan tempat evakuasi bayi (0-6 bulan) sejak Selasa (29/09/15) karena indeks standar pencemaran udara terus bertahan di level berbahaya.

Arif Saleh (Teknik Lingkungan 2013) menceritakan kondisi kampung halamannya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Bahkan, ujar Arif, telah terjadi tabrakan kapal di perairan Kapuas karena tebalnya asap di sana.

“Awalnya ada yang terbakar. Kalimantan itu kan tanahnya gambut. Ya kalau ada kebakaran, kebakarannya itu ga hanya di permukaan tetapi juga tanahnya. Jadi kalau kebakar, susah mau matiinnya. Bahkan kalau dilihat dari atas, apinya tu ga ada,” ungkapnya.

Menurut Arif Saleh, sekolah sempat diliburkan lebih kurang seminggu. Namun, proses belajar mengajar diadakan kembali karena kondisi asap tidak banyak berubah. Saat ditanyai tentang tindakan pemerintah daerah, Arif menjawab, “Bingung kalau kasus asap. jadi pemerintah masih kayak sibuk mencari siapa pelakunya, cuma ultimatum aja: kalau ngebakar lagi didenda sekian milyar. Kalau ngilangin asapnya kan susah.”

Hal yang tidak jauh berbeda dialami oleh penduduk Sumatera. Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Bumi Sriwijaya (Musi) ITB Rabbi Pandu Angkasa (Teknik Pertambangan 2013) menuturkan bahwa dari pemerintah sendiri sudah menyosialisasikan untuk menggunakan masker. Sekolah juga sempat diliburkan agar anak-anak tidak terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). “Anak-anak juga biasanya tidak betah menggunakan masker,” tuturnya.

Di Riau, menurut Ketua Unit Kebudayaan Melayu Riau (UKMR) Raihannur Reztaputra (Teknik Informatika 2013), polusi asap kebakaran hutan terjadi hampir tiap tahun. “Tapi dari beberapa tahun terakhir mungkin bisa dibilang ini yang paling parah,” kata Raihan.

Keluarga yang dihubungi oleh Raihan menceritakan beberapa gangguan kesehatan yang kini mereka alami. “Mata kering, batuk, mainly gangguan pernapasan. Suara yang terdengar di telepon pun jelas terdengar serak,” ungkapnya.

KM ITB MENGGALANG DANA

Raihan menuturkan bahwa untuk membantu korban bencana kebakaran hutan Sumatera dan Kalimantan, KM ITB membuka penggalangan dana hingga tanggal 3 Oktober 2015. Penggalangan dana ini diinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan “Selva”, Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam – Ganesha, Unit Kebudayaan Melayu Riau, Keluarga Mahasiswa Jambi, Unit Kebudayaan Kalimantan, Unit Mahasiswa Bumi Sriwijaya, serta Kementerian Manajemen Lingkungan dan Kementerian Kajian Strategis Kabinet KM ITB. Dana akan disalurkan ke daerah-daerah yang membutuhkan melalui organisasi/lembaga di sana.

Penggalangan dana bisa dilakukan via rekening, yaitu:

Rekening Bank Mandiri

9000019025858 a/n Rabbi Pandu A.

1130006600518 a/n Fathan Mubina

Rekening Bank BNI

383314578 a/n Intan Trilestari Soelistyo

Rekening Bank BRI

484201001215533 a/n Fahrul Husaini

 

Reporter: Mega Liani Putri (Teknik Lingkungan 2013)

Sumber Gambar: Viva News

Share.

Leave A Reply