Andrea Hirata, Cerita Dibalik Kesuksesan Tetralogi Laskar Pelangi

0

Nama Andrea Hirata mulai dikenal pecinta sastra tanah air lewat karya fenomenal dalam tetralogi novel Laskar Pelangi. Meskipun karyanya merupakan novel perdana, Laskar Pelangi telah melambungkan namanya diantara penulis-penulis berbakat tanah air. Setelah sukses dengan tetraloginya, Laskar Pelangi pun diangkat ke layar lebar. Tak hanya Laskar Pelangi, seri kedua yang berjudul Sang Pemimpi pun juga difilmkan. Berikut kisah tentang penulis asal Bangka Belitung ini.

Lahir di Bangka Belitung pada 24 Oktober 1982 (33 tahun) dengan nama lengkap Andrea Hirata Seman Said Harun, sebenarnya Andrea tidak mengambil jurusan sastra di perkuliahannya. Andrea Hirata adalah lulusan S1 Ekonomi Universitas Indonesia. Setelah menyelesaikan studi S1 di UI, pria yang identik dengan topi hitam ini lalu mendapat beasiswa Uni Eropa untuk melanjutkan studi di Master of Science Universite de Paris, Sorbonne, Perancis, dan Sheffield Hallam University, Inggris.

Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia pun lulus dengan predikat cumlaude. Tesis itu kini telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu juga telah beredar sebagai referensi ilmiah.

Awal mula Novel Laskar Pelangi

Andrea bercerita bahwa Novel Laskar Pelangi sebenarnya tidak sengaja dibawa ke penerbit untuk dipasarkan. Dia bercerita bahwa temannya lah yang menemukan draft buku itu di kamar kosnya, dan diam-diam mengirimkannya pada penerbit. Dan kini, Laskar Pelangi telah dicetak sampai puluhan ribu eksemplar.

Laskar Pelangi sendiri berkisah tentang petualangan menimba ilmu 10 anak SD yang bersekolah di sebuah SD Muhammadiyah di Bangka Belitung. Kesepuluh anak tersebut kemudian menyebut diri mereka sebagai ‘Laskar Pelangi’. Karakter yang ditonjolkan sebenarnya ada 2 sosok, yaitu Mahar dan Lintang. Mahar diceritakan sebagai anak yang sangat kreatif, berani melawan arus, dan eksentrik. Sedangkan Lintang, pemuda berkulit gelap namun berotak layaknya ‘Einstein’ dan sangat bersemangat walau harus menempuh perjalanan 10 km untuk mencapai sekolahnya.

Selain berkisah tentang 10 anak tersebut, di novel setebal 529 halaman itu Andrea juga menceritakan tentang keuletan gurunya yaitu Bu Muslimah dan kepala sekolah mereka. “Kesan yang paling membekas adalah bagaimana beliau (Bu Muslimah) selalu berhasil membuat kami murid-muridnya untuk mencintai ilmu. Dengan beliau, mata pelajaran apapun tidak pernah menjadi beban. Pekerjaan rumah adalah hiburan, ujian adalah petualangan dan tantangan yang menyenangkan”, ungkapnya ketika ditanya sosok seorang Bu Muslimah.

Meskipun tergolong baru, namun novelnya amat laris di pasaran, mengalahkan novel-novel yang saat itu (tahun 2008) sedang booming dengan genre percintaan dan horror. Ketika ditanya soal larisnya novel tersebut, Andrea menjawab “Tetralogi Laskar Pelangi bercerita tentang orang Indonesia kebanyakan. Sehingga pembaca melihat dirinya sendiri dalam karya itu. Karena itu tetralogi Laskar Pelangi mendapat acceptance (penerimaan) yang luas. Saya senang buku-buku yang tidak metrotop semacam Laskar Pelangi ini bisa juga meraih predikat best seller, namun yang lebih penting bagi saya bagaimana membuat buku yang memiliki tingkat acceptance yang besar sekaligus tingkat literary yang tinggi. Dalam bahasa industrinya : bagaimana membuat karya bermutu sekaligus laku, mematahkan mitos paradoks buku Indonesia dimana buku yang bermutu sering tak laku.”

Penghargaan

Tak hanya laku di pasaran, novel ini juga menyabet beberapa penghargaan bergengsi baik di tingkat nasional maupun internasional. Penghargaan-penghargaan yang diraih seperti : Khatulistiwa Literaly Award (KLA) tahun 2007, Aisyiyah Award, Paramadina Award, dan Netpac Critics Award. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing seperti Malaysia, Spanyol, dan Inggris.

Setelah sukses di dunia sastra, Laskar Pelangi juga telah difilmkan dengan menggandeng sutradara muda berbakat, Riri Reza. Andrea sendiri tidak khawatir Laskar Pelangi akan kehilangan ‘nyawa’ saat dibuat versi sinematiknya. Ia melihat bahwa dimensi apresiasi film dan buku serta kapasitas artistiknya amat berbeda. Pria berambut ikal ini juga percaya akan integritas dan kreativitas Riri Reza, sehingga hasilnya dapat kita lihat bahwa film Laskar Pelangi tak kalah sukses dengan novelnya. Bahkan, sempat dibuat drama musikal yang bekerja sama dengan salah satu artis senior tanah air.

Tips Menulis

Saat diminta berbagi tips menulis bagi penulis pemula, khususnya untuk membuat novel, berikut jawabannya, ”Saya orang yang belajar untuk menghargai semua genre tulisan sastra. Baik itu apa yang orang sebut chikilit atau teenlit. Karena saya tahu menulis itu tidak mudah. Maka saya tidak punya pandangan tentang hal mendasar dalam teknis menulis. Pandangan saya adalah mengenai apresiasi. Dalam hal ini saya rasa karya dari seorang penulis bukan hanya persoalan bagaimana masyarakat akan menghargai tulisannya, tapi bagaimana ia sebagai penulis akan menghargai dirinya sendiri. Artinya, jika ia menghargai dirinya sendiri, hendaknya ia menulis sesuatu yang memiliki integritas. Tidak melulu patuh pada tuntutan pasar.”

Menurutnya, penulis yang sukses adalah penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal yang luhur setelah membaca tulisan atau bukunya. Masih menurut Andrea, penulis hendaknya tidak tergantung pada mood. Dia beranggapan bahwa terkadang mood adalah excuse bagi kemalasan.

[WSN/merdeka.com/pembelajar.com]

Share.

Leave A Reply