Muhammad Al Kahfi: Berprestasi Sejak TPB

0

Seri “Aksi Insan Akademis”

#2

Persembahan Redaksi Ganeca Pos untuk Menginspirasi #MetamorfosisInsanAkademis

Di awal tahun ajaran baru ini, angin kemenangan sudah berhembus dari negri Bulgaria sana. Ya, tim dari indonesia berhasil meraih dua mendali emas dalam kompetisi matematika bergengsi di dunia, International Mathematics Competition (IMC). Ajang tahunan ke-22 yang diadakan di Blageograd Bulgaria ini, berlangsung dari 27 Juli sampai 2 Agustus 2015. ITB juga patut berbangga, karena salah satu dari perwakilan Indonesia di ajang tersebut yang mendapatkan emas adalah seorang mahasiswa ITB. Dialah Muhammad Al Kahfi, mahasiswa Matematika angkatan 2014.

Sejak TPB, Kahfi, begitu ia akrab disapa, sudah mulai merintis prestasinya di kampus ITB tercinta ini. Berbekal dari informasi kenalan dan rekan-rekan olimpiade tingkat SMA-nya, lelaki yang sudah aktif di ajang perlombaan matematika sejak kecil ini mulai bersaing kembali di beberapa kompetisi tingkat perguruan tinggi. Dengan ketekunan dan persiapan diri yang baik, akhirnya Kahfi berhasil meraih beberapa prestasi dalam kurun waktu yang cukup singkat. Sampai saat sekarang, pemuda asli Minang ini sudah mengikuti tiga kompetisi dan dua diantaranya berhasil dengan membawa pulang mendali emas.

Setelah sukses meraih emas di ONMIPA-PT 2015 (saat masih menjalani semester 2) , Kahfi terpilih menjadi salah satu dari sembilan wakil Indonesia untuk ke ajang internasional. Dari tim matematika yang mewakili Indonesia di IMC ke-22 tersebut, Kahfi merupakan peserta termuda. Kahfi yang baru-baru ini menginjak usia 19 tahun berharap, bahwa kemenangan yang ia raih bisa menjadi kado terindah untuk Indonesia. Kahfi mengaku bahwa pengalaman di ajang IMC tersebut merupakan pengalaman berharga dalam hidupnya. Pasalnya itu adalah pertama kalinya ia pergi ke luar negri dan bisa bersaing dengan orang-orang jenius dari berbagai belahan dunia. Bertemu dengan orang-orang asing tersebut sempat membuat ia minder. Tetapi dengan usaha dan keyakinannya dalam mengerjakan soal, akhirnya hasil final dari kompetisi tersebut tidak mengecewakan.

Dibalik semua pretasinya, Kahfi mengaku bahwa target-target tersebut ia capai untuk membahagiakan orang tuanya. Tidak hanya itu saja, Kahfi juga menyebutkan bahwa ia sangat ingin memberikan yang terbaik untuk sekolahnya ataupun almamaternya sekarang ini, ITB. Karakter Kahfi yang tidak mudah mengalah juga menjadi daya dorong tersendiri bagi Kahfi untuk memiliki target-target tinggi tersebut.

Meskipun masih di tingkat TPB, hal itu tidak menghalangi Kahfi untuk terus berprestasi di bidang yang ia gemari ini. Di awal mengikuti kompetisi-kompetisi tersebut, Kahfi awalnya merasa tidak percaya diri karena saingannya adalah mahasiswa-mahasiswa tingkat atas jurusan matematika. “Merasa minder itu pasti. Tapi itu akan jadi cambuk untuk belajar materinya lebih serius lagi”, Kahfi mengakui.

Diakhir pembicaraan Kahfi sempat berpesan untuk mahasiswa-mahasiswa baru ITB 2015 agar jangan pernah takut untuk berprestasi sejak awal, “Nggak ada yang nggak mungkin selama kita mau bekerja keras dan percaya sama Allah. Kadang kita bisa meraih suatu prestasi bukan karena kita hebat, tapi kadang karena keberuntugan, pintar strategi , dan bantuan dari Tuhan”.

 

Referensi: itb.ac.id/news/4775.xhtml dan nationalgeographic.co.id/berita/2015/08/indonesia-juara-dalam-olimpiade-matematika-di-bulgaria

 

S. R. Devi (SI 14)

Share.

Leave A Reply