Geliat Crowdfunding di ITB: Dari Mang Somad Hingga Gucak.org

0

Seri “Aksi Insan Akademis”

#1

Persembahan Redaksi Ganeca Pos untuk Menginspirasi #MetamorfosisInsanAkademis

GANECAPOS.com – Era digital kini telah membawa gebrakan baru di pergerakan pemuda Indonesia. Crowdfunding, pengumpulan dana secara “patungan” lewat sebuah web, menjadi hal terkini untuk mendukung kreativitas anak bangsa. Kini web menjadi salah satu fasilitas yang paling mudah untuk mengumpulkan berbagai pihak, tidak terhalang oleh batas-batas lokasi. Oleh karena itu, crowdfunding menjadi pilihan yang pas untuk merealisasikan sebuah gerakan yang membutuhkan asupan dana yang cukup besar.

Inisiator crowdfunding di Indonesia adalah sebuah start-up bernama KitaBisa.com. Founder-nya adalah seorang alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Alfatih Timur. KitaBisa.com memfasilitasi project owner di lamannya masing-masing untuk membuat profil dan mempromosikan projeknya sehingga orang-orang mau berkontribusi dalam hal bantuan dana.

“Ini konsep adalah yang sangat primitif. Udah ada di masyarakat kita sejak ratusan tahun yang lalu. Masyarakat kita sudah terbiasa gotong royong, terbiasa patungan. Cuma sekarang dikemas dengan tools baru,” tutur Alfatih Timur ketika mengisi sebuah seminar di Universitas Negeri Padang, 15 Juli lalu.

Dengan semangat mengemas budaya “gotong royong” yang up-to-date, tim KitaBisa.com mengembangkan crowdfunding platform pertama di Indonesia. Hingga kini, telah banyak projek yang didanai dari berbagai macam kegiatan, baik itu sosial maupun ekonomi kreatif.

 

Bagi civitas academica ITB, crowdfunding juga telah menjadi pilihan dalam bergerak. Cerita dari ITB pun dimulai dari projek #THRMangSomad hingga start-up Gucak.org.

#THRMangSomad, Dari Alumni yang Masih Peduli

Projek #THRMangSomad dipublikasikan di KitaBisa.com menjelang lebaran, diinisiasi oleh seorang alumni TL ITB, Bijaksana Junerosano. Sano, begitu panggilan akrabnya, bersama rekan-rekan alumni tergerak untuk memberikan sumbangsih untuk Mang Somad, penjual Bakso Cuanki keliling di sekitar kampus ITB Ganesha, untuk keperluan berlebaran.

Pencapaian projek ini terbilang fantastis karena target awalnya hanya tiga juta rupiah. Setelah crowdfunding ditutup, projek ini akhirnya mendapatkan dana hingga 600% melebihi target tersebut.

Respon yang jauh melebihi harapan, membuat Kak Sano sangat bersyukur. “Membantu itu cukup dengan niat. Dan bila niat ditambah dengan kreativitas maka hasilnya akan lebih baik. Selain itu sekarang jaman serba canggih, membantu pun makin mudah,” ungkapnya.

Beliau kini makin sepuh. Sekarang sudah tidak kuat berjualan lama2. Sekarang fase jualannya hanya 3 minggu dan 1 minggu harus istirahat di kampung Awilega Garut yg harus beliau tempuh dengan 3 kali kendaraan umum dari Cihampelas ke Caheum ke Cikajang ke Cikahurip dan masih harus disambung naik ojek hanya untuk bisa pulang ke anak2 dan istrinya.

Beliau bilang: “Rumah saya di hutan den Sano, jauh. Kalau anak sakit rumah sakit terdekat jaraknya 70 Km dan itupun kita harus gendong anak pakai gendongan melewati pematang2 sawah”. Karena situasi tersebut beliau harus kehilangan 3 buah hatinya karena sakit dr kejadian pertama tahun 1994 hingga kejadian terakhir 2011 kemarin. Sekarang anak terbesarnya baru lulus SMP dan bercerita: “saya pesantrenkan aja lah den Sano bila ga ada dana utk mensekolahkan ke SMA”.

Begitulah penjelasan Sano di web KitaBisa.com sehingga menggugah hati banyak orang untuk membantu Mang Somad.

Ketika ditemui di kompleks Masjid Salman ITB Jumat (14/08) lalu. “Terima kasih banyak dari Mang Somad. Deg degan juga, malu aja gitu. Di dalam hati ga ada secuil pun niat untuk meminta. Karena kepedulian alumni ITB aja, Mas Sano yang berjuang keras juga,” ungkap Mang Somad dengan segala kerendahan hati.

Kolaborasi Mahasiswa Berbagai Program Studi lewat Gucak.org

Tergerak untuk membantu memperbaiki infrastruktur pendidikan di Indonesia, lima mahasiswa ITB membuat sebuah start-up yang juga memfasilitasi crowdfunding, yaitu Gucak.org. Mereka adalah Sheila Amalia Saleh (Arsitektur 12), Robert (Teknik Mesin 12), Syahid Rohmatullah (Teknik Tenaga Listrik 12), Riady Sastra Kusuma (Teknik Informatika 12), dan Nur Amalyna Yusrin (Manajemen 12).

“Kita pertama kali bergerak memang untuk gimana caranya membantu sekolah-sekolah yang selalu muncul di berita-berita. Masalah sekolah rusak, sekolah tidak layak pakai, dan lain lain. Bahkan baru-baru ini ada berita bahwa ada 184.000 SD di Indonesia masih dalam keadaan rusak berat,” jelas Sheila kepada Redaksi Ganeca Pos pada Minggu (16/08).

Solusi yang ditawarkan oleh tim Gucak adalah berupa situs crowdfunding yang bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Diharapkan, masyarakat umum turut membantu untuk menyediakan fasilitas sekolah yang menunjang pendidikan di berbagai daerah. Menurut Sheila dan rekan-rekannya, dana 20% APBN untuk pendidikan ternyata tidak cukup untuk menyamaratakan infrastruktur pendidikan di seluruh Indonesia.

Hingga berita ini dirilis, Gucak.org adalah salah satu TOP 12 Finalists of Danone Young Social Entrepreneur 2015. Tim masih sibuk mempersiapkan konsep dan teknis yang matang untuk memasarkan Gucak.org.

 

Geliat crowdfunding yang telah masuk ke ITB diharapkan dapat memacu kreativitas para insan akademis untuk berbakti untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater. Dana kini tak lagi menjadi penghalang, semangat gotong royong mewujudkan kebaikan akan terus mendukung terwujudkan aksi nyata untuk Indonesia.

 

Reporter: Mega Liani Putri (TL 13)

Share.

Leave A Reply