Review Film ‘Filosofi Kopi’

0

GANECAPOS.com — Setelah Madre, kini kembali hadir sebuah film yang menjadikan makanan atau minuman sebagai sentral ceritanya. Diadaptasi dari karya seorang novelis terkenal, Dewi “Dee” Lestari, film Filosofi Kopi mengajak kita untuk mengenal lebih dekat tentang makna yang ada pada setiap jenis cangkir kopi.

Film diawali dengan adegan di suatu pagi, ketika kedai Filosofi Kopi sedang ramai oleh pengunjung. Seorang pelayan tersenyum memandang review kedai Filosofi Kopi yang ditulis, “…menghidupkan kembali Melawai.” Kemudian tampak Ben (Chicco Jerikho) berdiri dengan apron cokelat, rambut gondrong terikat, dan topi yang selalu dipakainya ketika meracik kopi. Ia tengah berbicara kepada seorang gadis dan menggodanya dengan filosofi cappucino: keindahan yang mirip kamu.

Atas nama persahabatan, Ben bersama sahabatnya sejak kecil, Jody (Rio Dewanto) merintis bisnis kedai kopi. Keduanya memiliki peran masing-masing. Ben, yang memang piawai meracik kopi sehari-harinya menjalankan peran sebagai barista di kedai kopi ini. Sementara Jody, lebih banyak mengurusi masalah finansial dan manajemennya. Watak Ben yang menggebu-gebu dan nyentrik, sedangkan Jody yang penuh pertimbangan dan realistis menyebabkan kedua sahabat ini sering mengalami konflik-konflik kecil.

Ben berpendapat bahwa setiap kopi memiliki filosofi yang menyelubunginya. Misalnya, Kopi Tubruk yang bermakna lugu, sederhana, tetapi sangat memikat kalau kita mengenalnya lebih dalam. Lain lagi dengan Cappucino, yang bermakna kelembutan dan keindahan. Makna di balik secangkir kopi itu dituangkan Ben dalam selembar kartu kecil yang akan diberikan pada pengunjung sesuai dengan jenis kopi yang mereka pesan . Hal ini yang menjadikan kedai Filosofi Kopi memiliki konsep dan nuansa uniknya sendiri.

Masalah finansial yang semakin membebani bisnis kedai kopi yang mereka jalani, membuat hubungan di antara Ben dan Jody sedikit memanas. Suatu ketika datanglah seorang pengusaha kaya yang tertarik terhadap  kopi yang diracik di kedai Filosofi Kopi. Ia menawarkan uang sebanyak 100 juta apabila Ben berhasil membuat kopi yang kenikmatannya terbaik dan sempurna. Ben menyanggupinya, tetapi dengan menaikkan tawaran si pengusaha menjadi 1 milliar, dan membuat perjanjian apabila ia gagal maka Filosofi Kopilah yang harus membayar sejumlah itu. Mengetahui hal itu, Jody semakin dibuat pusing dengan tingkah Ben.

“Gue nggak pernah bercanda soal kopi..”, Obsesi Ben untuk membuat kopi yang terbaik ternyata membuahkan hasil. Dalam dua minggu ia berhasil menemukan formula kopi yang dinamakannya Ben’s Perfecto dengan motto khasnya, “Sukses adalah Wujud Kesempurnaan Hidup”.

Keberadaan Ben Perfecto memikat banyak pengunjung. Akan tetapi, El, seorang food blogger  wanita berpredikat Q-grader yang tengah berkeliling dunia untuk melakukan research mengenai kopi, berpendapat kalau Perfecto biasa saja, tidak cukup baik dibanding “Kopi Tiwus”, kopi yang pernah dicobanya di sebuah pedalaman Jawa dan diracik oleh Pak Seno, (Slamet Rahardjo),  petani kopi di daerah tersebut. Menyadari kopi terbaik yang dibuatnya memiliki pesaing, akhirnya Ben, Jody, ditemani oleh El, memutuskan untuk mengunjungi daerah asal kopi Tiwus tersebut. Perjalanan itu mengubah pemahaman Ben sepenuhnya terhadap kopi yang digelutinya selama ini.

Film yang diangkat dari novel aslinya yang juga berjudul Filosofi Kopi ini, memiliki sedikit perbedaan dalam alur cerita. Misalnya saja adanya tokoh El dalam kisah ini, ditambahkan untuk menjadi penyeimbang dua tokoh utama yang semuanya laki-laki. Ada pula penambahan latar belakang keluarga para tokoh yang sebelumnya tidak ada pada novelnya, tetapi secara keseluruhan modifikasi ini tidak mengubah pesan atau esensi yang ingin disampaikan.

Angga Sasongko, selaku sutradara film ini, berhasil menerjemahkan kata adaptasi dengan sangat baik. Ia tak sekedar menempelkan karakter dalam buku ke dalam film. Lebih jauh lagi, ia mengembangkannya ke dalam karakter yang kompleks.

Melalui efek visual yang memukau, penonton akan disuguhkan dengan adegan dan latar yang tidak biasa seperti proses pembuatan kopi, baik modern menggunakan mesin gerus maupun tradisional dengan cara ditumbuk, dan juga nuansa alam perkebunan kopi yang luas serta pondok sederhana tempat Pak Seno tinggal yang menyejukan hati. Selain itu, efek suara seperti bunyi mesin kopi, sendok, dan sisipan lagu Dongeng Secangkir Kopi yang dibuat oleh pengarang novelnya, Dee, membuat film ini semakin berwarna dan menghanyutkan.

Walau konsep ceritanya cukup sederhana, film ini mengandung makna dan nilai kehidupan yang cukup mendalam. Filosofi Kopi mengajarkan kita bahwa hanya pekerjaan yang dilakukan dengan sepenuh hati dan cintalah yang sanggup membuat hasil berbeda lebih dari yang kita bayangkan. Karena strategi dan tahapan bisa sama, tetapi pada akhirnya yang membedakan adalah ketulusan yang mengiringi pekerjaan itu, termasuk dalam hal membuat kopi.

Reviewer : Mahendra (FT ’13)

Share.

Leave A Reply