Ohle Goes to Campus: Media Cerdas, Cerdas Bermedia

0

Ganecapos.com —Sabtu (11/04), Mang Ohle bersama Pikiran Rakyat mengadakan acara di ITB yang bernama Ohle Goes to Kampus. Acara ini terbagi menjadi dua rangkaian acara, yaitu kuliah umum di Aula Barat dan pelatihan jurnalistik dan fotografi di Auditorium CC Timur. Dalam menyelenggarakan acara ini, unit-unit kegiatan mahasiswa bidang media, yaitu Pers Mahasiswa, Radio Kampus, Boulevard, dan 8EH bekerja sama menjadi event organizer. Selain itu, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan dari beberapa unit kegiatan mahasiswa bidang seni, yaitu Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan (PSTK), Unit Kebudayaan Sumatra Utara (UKSU), dan Unit Kebudayaan Banten (Debust).

Sekaligus mengisi Studium Generale, pada sesi pertama berlangsunglah kuliah umum berbentuk talkshow yang disajikan oleh lima orang narasumber dari Pikiran Rakyak yang dibagi menjadi dua sesi. Kedua sesi talkshow ini mengusung tema “Media Cerdas, Cerdas Bermedia”. Sebelum talkshow berlangsung, Pak Kadarsah selaku Rektor ITB sempat memberi sambutan kepada peserta kuliah umum dan juga pihak Pikiran Rakyat yang telah berkenan hadir pada acara ini.

Pada sesi pertama, ada tiga narasumber yang memberikan materi, yaitu Islaminur Pempasa (Pemimpin Editor Pikiran Rakyat), H. Wan Abbas (Direktur PR FM), dan Erwin Gustiman (Redaktur Pikiran Rakyat) . Di sesi pertama ini, para narasumber menitikberatkan pembahasan mengenai transisi media dari yang konvensional menjadi yang moderen.

Menurut Erwin, telah terjadi gempuran online terhadap dunia media belakangan ini yang menyebabkan perusahaan media harus beradaptasi dan mengeluarkan produk online untuk memenuhi kebutuhan pembaca. “Kita adalah imigran di digital world,” ungkap Erwin. Mengutip salah satu buku dari Philip Meyer, Erwin setuju bahwa kurang lebih pada tahun 2043, keberadaan dari koran cetak akan punah seiring dengan berkembangnya teknologi digital.

Hal yang sama terjadi pula pada pendengar radio. Menurut Abbas, selaku Direktur Pikiran Rakyat FM, frekuensi pendengar radio semakin menurun hari demi hari. “Menurut media research, pendengar radio terbanyak adalah ibu rumah tangga dan pembantu. Itu juga mereka setel ketika lagi ngepel atau nyetrika, tidak begitu diperhatikan,” tutur Abbas. Untuk tetap menjaga eksistensi dari radio, menurut Abbas, perlu dilakukannya pengadaptasian dan inovasi-inovasi yang mendukung. Pikiran Rakyat FM sendiri untuk bisa menjaga eksistensi tersebut dengan pengadaan twitter PR FM yang lebih sering dipantau oleh masyarakat dan juga diberlakukannya citizen journalism agar lebih interaktif. “Andalah reporter kami,” ajak Abbas.

Namun, walaupun media online lebih digemari masyarakat Indonesia saat ini, hanya sedikit yang sehat. Menurut Erwin, dari sekitar 900 media online maupun cetak yang resmi, hanya ada 10% media yang benar-benar sehat. Sehat di sini berarti beritanya sesuai dengan fakta dan dapat dipercaya. Kemudian, menurut Erwin berita-berita di media online biasanya memiliki konten yang tidak begitu mendalam karena prosesnya yang hanya lihat-tulis-post, jarang yang melalui proses editing seperti yang dilakukan di media cetak. Sehingga, menurut Erwin beberapa keunggulan dari media cetak antara lain, yaitu dapat dipercaya, melalui prosedur yang jelas, tiba tepat waktu, kreatif dan inovatif, serta memiliki analisis yang mendalam.

Selain itu, Islaminur Pempasa atau yang biasa disapa Ipe, menjelaskan bahwa masyarakat dan media itu harus sama-sama cerdas. Menurutnya, media harus menyajikan berita secara cerdas dan masyarakat harus membaca beritanya secara cerdas pula. Yang dimaksud oleh Ipe membaca berita dengan cerdas adalah dengan tidak mudah percaya berita yang diterima begitu saja, mengingat banyak sekali media yang tidak sehat terutama di media online. Oleh sebab itu, Ipe menyarankan masyarakat untuk mempelajari news iteration atau pengecekan keabsahan dari suatu berita. “Bisa dicek mulai dari narasumbernya siapa, datanya sesuai fakta atau tidak, siapa pembuat informasinya, dan lain-lain. Selebihnya bisa kalian cari di google buat iterasi berita yang baik.” jelas Ipe.

Setelah memaparkan mengenai seluk-beluk pemberitaan media, hadirlah dua narasumber di sesi kedua, yaitu Zaky Yamani dan Tri Joko Herriadi yang keduanya pernah mendapatkan penghargaan reporter berprestasi. Pada sesi kali ini, kedua narasumber menceritakan pengalaman-pengalaman mereka sebagai wartawan Pikiran Rakyat.

Sebagai peraih gelar Adi Negoro 2015, Joko menjelaskan bahwa sebagai wartawan yang baik dalam mengulik suatu peristiwa, butuh banyak sekali pengorbanan jiwa maupun raga. “Investigasi kadang menghabiskan waktu 6 bulan. Pergi sana-sini buat ketemu sama narasumber yang dibutuhkan,” jelas Joko. Dari pengorbanan tersebut, seorang wartawan tentunya akan menghasilkan suatu atau lebih dari satu tulisan yang diharapkan dapat memberi informasi ataupun manfaat kepada pembacanya. “Tolong coba lebih menghargai wartawan media cetak. Perjuangannya berat banget.”

Kemudian, Zaky menjelaskan pula mengenai sistematika peliputan suatu berita. Menurutnya, peliputan dimulai dengan wawancara dan survei, dilanjut dengan menulis berita, kemudian diberi kepada editor konten, lalu kadang ada juga yang dilanjut ke editor pembahasaan, dan baru beritanya dipublikasikan. Namun, peliputan yang dilakukan oleh seorang wartawan tidak boleh sembarang, ada etika-etika yang harus dimiliki dari seorang wartawan. “Tidak boleh membesar-besarkan fakta ataupun mengecil-ngecilkannya. Tidak boleh bohong. Tidak boleh memberi opini pribadi sekecil apapun. Dan yang terakhir harus disiplin bahasa,” jelas Zaky mengenai beberapa etika yang harus dimiliki seorang wartawan.

Setelah mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di media dan mendapat gambaran bagaimana pekerjaan seorang wartawan, Ohle Goes to Kampus dilanjut ke rangkaian acara kedua, yaitu pelatihan jurnalistik dan fotografi agar dapat tahu bagaimana cara menjadi seorang agen media. Pelatihan ini berlangsung di Auditorium CC Timur. Pelatihan ini juga merupakan penutup dari rangkaian acara Ohle Goes to Kampus di ITB.

Melalui Ohle Goes to Kampus ini, peserta mendapat pengetahuan mengenai jurnalisme. Mulai dari media secara umum, pekerjaan jurnalistik sebagai wartawan, hingga kemampuan untuk menjadi jurnalis itu sendiri. Melalui Ohle Goes to Kampus ini, Pikiran Rakyat memberi tahu kepada peserta bahwa siapapun bisa jadi jurnalis, seperti halnya citizen journalism. “Semua orang bisa buat berita, tapi yang bisa bertahan hanya sedikit. Intinya ada di pengolahan informasinya,” jelas Ipe.

 

Reporter:
Muhammad Adil Setiyanto Suhodo (FTSL 2014)
Muhammad Bayu Pratama (FITB 2014)

Editor:
Ikhwanul Muslimin (STEI 2014)

Share.

Leave A Reply