Sepenggal Kisah Bilik Sekolah Pengmas

0

GANECAPOS.com – Sebuah kesempatan langka dan terlalu berharga untuk dilewatkan mengikuti Bilik Sekolah Pengmas yang diselenggarakan oleh KM-ITB. Pada hari pertama, Jumat 27 Februari 2015, saya harus berangkat pagi menuju kampus Ganesha tercinta untuk berangkat menuju Subang. Awalnya sedikit ragu, tapi apa salahnya berangkat untuk sebuah pengalaman baru yang mungkin tak bisa tergantikan oleh sekedar teori di kelas. Dan benar, hari itu saya menginjak kaki pertama di desa Panaruban, Subang, di kediaman Bapak Iskandar dan Ibu Tri Mumpuni.

Rumah yang asri, sambutan tuan rumah yang hangat, so feels like home. Pak Iskandar dan Ibu Tri Mumpuni menurut saya adalah orang-orang hebat yang masih peduli pada negeri ini. Mereka berdua mengembangkan semua bentuk energi terbaharukan di desa-desa yang belum tersentuh oleh mungkin pemerintah atau lembaga lain. Tujuannya agar desa-desa tersebut terbangun secara budaya dan ekonomi. Sangat menyentuh, ternyata masih ada orang-orang yang memperjuangkan dan memikirkan nasib orang-orang yang tidak punya listrik diluar sana.

Suguhan singkong dan teh hangat membuat suasana semakin sendu, ditambah angin sepoi dari luar jendela. Menurut Pak Is, untuk membangun sebuah desa, tak cukup hanya pembangunan fisik seperti bangunan, jembatan, dan sebagainya tetapi juga harus melalui pembangunan sosial, yakni melalui nilai, norma, dan budaya. Masih banyak desa di Indonesia yang belum merasakan listrik, bahkan desa-desa terpencil dan miskin infrastruktur. Dimana para lulusan sarjana selama ini? Tidakkah mereka ingin membangun desa-desa tersebut untuk memajukan Indonesia?

Hal terpenting yang saya dapatkan dari Pak Iskandar adalah bahwa prinsip untuk pengabdian masyarakat adalah tidak menunggu sampai merasa mampu dan tidak terikat disiplin ilmu karena kita telah memiliki lebih banyak ilmu dari yang dimiliki kebanyakan penduduk bangsa. Selain itu, untuk melakukan pengabdian masyarakat yang sebenarnya kita tidak bisa sendirian maka diperlukan kolaborasi. Setelah berkunjung di kediaman Pak Is, melihat pembuatan Biogas dan dijamu dengan makan siang, kami berangkat untuk menuju mikrohidro Cinta Mekar di desa Mekar Sari yang dikembangkan oleh Pak Is, Bu Puni, dan IBEKA. Sungguh banyak Sumber daya di Indonesia yang bisa dimanfaatkan dan tentunya akan berguna bagi orang lain. Namun, bila tidak ada yang menjadi pelopor untuk mengawali dengan idenya maka tak akan pernah ada kolaborasi dan Indonesia tak akan maju dengan hal ini.

Kemudian kami berangkat menuju Desa Ponggang, Subang untuk menjalani live-in bersama warga desa Ponggang. Sesampainya disana, kami disambut lagi dengan keramahan luar biasa, bahkan ada penyambutan dari anak-anak dengan lagu islami. Bukankah kami diperlakukan seperti layaknya tamu istimewa yang datang dari luar sana? Tak hanya itu, kemudian kami disuguhi dengan hasil pangan alam, seperti pisang dan rambutan. Kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari tetua yang ada di Desa Ponggang. Desa ini memang masih memegang kuat adat yang ada. Dilanjutkan dengan makan siang, kami disuguhi dengan ikan asin, daun singkong, telur dan sambal. Hal yang tidak pernah saya dapatkan dimanapun. Kemudian kami dibagi untuk menuju rumah-rumah yang akan kami tinggali, dan saya mendapat kediaman Bapak Amir.

Keesokan harinya, sekitar jam 5 pagi menuju jam 6, saya dan teman-teman ikut anak-anak untuk pergi ke sekolah SD yang jaraknya sekitar 1,5 km. Sangat jauh, namun anak-anak ini sepertinya tak pernah mengeluh. Sekolah masuk jam setengah 8, namun karena jauhnya medan yang dilewati mereka berangkat maksimal adalah setengah 6. Mereka sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah, jalan tanjakan dan berbatu tak menjadi masalah bagi mereka. Kemudian, kami melanjutkan kegiatan kami untuk pergi ke sawah. Disana kami belajar memotong padi dan memisahkan bijinya. Perjalanan yang melelahkan, panas dan jauh, ada suatu prinsip disana bahwa batang yang jatuh harus diambil agar bisa dimanfaatkan menjadi beras. Sangat ironi, ketika masyarakat petani mengambil padi yang terjatuh, namun saya sering kali makan namun nasinya tidak habis. Pengalaman yang saya dapat, ambil jatah nasi sesuai dengan kemampuanmu.

Setelah itu, melanjutkan sesi diskusi dengan Kak Memes, Kak Arif dan Kak Aziz untuk berbagi pengalaman. Lalu, kami mengunjungi pembuatan kripik Chipmanihot yang dikembangkan oleh Ibu Nining, warga desa Ponggang. Kripik Chipmanihot terbuat dari adonan singkong yang dijemur lalu digoreng dan diberi bumbu tanpa MSG. Kripiknya sangat enak, tak kalah enak dari Maicih atau produk lain yang telah terkenal, namun Bu Nining belum mempromosikan sejauh itu. Karena keterbatasan bahan baku yaitu singkong dan juga terkait modal. Jika kita gali, bukankah setiap desa memiliki potensi?

Hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan belum berakhir: malam hari kami disambut dengan sebuah konser kecil dengan keyboard dan penyanyi untuk berdendang bersama. Menurut saya, ini adalah perhargaan luar biasa dari penduduk desa Ponggang kepada kami, para tamu.

Di hari terakhir live-in, kami bertemu dengan Kang Iqbal dari kitabisa.com untuk menerima materi Branding dan Funding yang saya peroleh adalah bahwa untuk branding yang baik, kita harus look different and be a story teller. Selain itu, kitabisa.com ternyata bisa memberikan dana untuk projek-projek sosial yang ingin kita lakukan. Ini tentu saja menjadi link yang sangat penting, jika memerlukan bantuan. Banyak sekali maslaah sosial yang sangat simple namun berhubungan dengan orang banyak.

Selanjutnya kami bermain dengan anak-anak. Tak hanya itu, disela kesibukan kami kami selalu dikelilingi dengan anak-anak yang polos, dan lucu. Kami membuat pos-pos mengenai pekerjaan yang berhubungan dengan keilmuan kami, karena hasil bincang-bincang kami dengan anak desa ini hanya tahu pekerjaan sebatas guru. Mereka sangat polos dan lugu. Setelah itu kami membuat time capsule dan menuliskan mimpi-mimpi mereka dan menguburnya dalam tanah. Semoga impian tersebut menjadi nyata.

Hal terpenting yang saya peroleh adalah Indonesia sangatlah kaya, banyak potensi. Namun, siapakah yang akan menggali potensi tersebut dan mengembangkannya jika bukan kita generasi muda? Siapa yang akan memajukan Indonesia jika kita hanya duduk di kursi perusahaan tanpa turun langsung menuju desa? Sebuah refleksi dari pengalaman berharga yang saya peroleh.

 

Oleh :
Nor Iffadathul Faddilla – Matematika 2013
Editor:
Mega Liani Putri – Teknik Lingkungan 2013

Share.

Leave A Reply